AKAL DAN WAHYU

A. Pendahuluan
Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal, sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
Dalam ajaran agama yang diwahyukan untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan umat manusia yang diperoleh pancaindera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa oleh wahyu ini diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui akal sifatnya nisbi atau relatif. Artinya kemungkinan bisa terjadi kebenarannya atau sebaliknya.
Islam dengan kebudayaannya yang telah berjalan selama 15 abad dan selama dalam kurun waktu lima abad para ahli pikir Islam merenungkan tentang kedudukan manusia di dalam hubungannya dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan, dengan menggunakan akal pikirannnya. Mereka berfikir secara sistematis dan analitis, serta kritis sehingga lahirlah para filosof Islam yang memiliki kemampuan tinggi karena kebijaksanaannya.
Dalam kegiatan pemikiran ini ada dua kekuatan pemikiran, yaitu para ahli pikir yang berusaha menyusun sebuah sistem yang disesuaikan dengan ajaran Islam dan para ulama yang menggunakan metode rasional dalam menyelesaikan soal-soal ketauhidan.
Pemakaian akal dalam Islam diperintahkan oleh al-Qur’an sendiri. Bukanlah tidak ada dasarnya kalau ada penulis-penulis baik dari kalangan Islam sendiri, maupun dari kalangan bukan Islam, yang berpendapat bahwa Islam adalah agama rasional.
Masalah hubungan antara wahyu dan akal ini, menurut A.J.Arberry, dalam bukunya yang berjudul “Revelation and Reason”, merupakan bahan yang paling masyhur dan mendalam dibicarakan dalam sejarah pemikiran manusia. Dan walaupun telah dua ribu tahun menjadi bahan pembahasan, problema akal dan wahyu ini tetap menarik dan segar untuk dibicarakan.
Keadaan yang dikemukakan oleh Arberry di atas dijumpai juga dalam Islam. Dari sejak semula masalah akal dan wahyu ini telah menjadi bahan polemik antara ulama-ulama Islam, terutama di kalangan teolog dan filosof Islam. Wahyu, dalam hal ini tidak mengandung segala-galanya, bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan. Yang mereka persoalkan adalah sejauh mana akal dapat memperoleh pengetahuan-pengetahuan keagamaan ?, kalau akal dapat memperoleh pengetaghuan keagamaan, apa sebenarnya pungbsi wahyu ?, meskikah akal dan wahyu bertentangan ?, mestikah agama dan filsafat bertentangan ?, mestikah agama dan ilmu pengetahuan berlawanan ?

B. Akal dan Wahyu Sebagai Sebagai Jalan Menuju Tuhan
Kata akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-aql, yang dalam bentuk kata benda, berlainan dengan kata al-wahy, tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluh dalam 1 ayat dalam al-Qur’an, ta’qilun 24 ayat, na’qil 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat, ya’qilun 22 ayat. Kata-kata tersebut dating dalam arti faham dan mengerti, seperti contoh dapat dapat disebut ayat-ayat berikut :
          
Artinya: “Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal” (Q.S. Asy-Syu’araa’: 28).

                   
Artinya: “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?[x]. (Q.S.al-Baqarah ayat 75).

[x] yang dimaksud ialah nenek-moyang mereka yang menyimpan Taurat, lalu Taurat itu dirobah-robah mereka; di antaranya sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat itu.

Dan ayat,
             
Artinya: “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah Karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”.(Q.S.al-Maa’idah ayat 58).

Dalam pemahaman Prof. Izutzu (1964: 65), kata ‘aql di jaman jahiliah dipakai dalam arti kecerdasan praktis practical intellegenci yang dalam istilah modern disebut kecakapan memecahkan masalah problem solving capacity. Orang berakal menurut pendapatnya adalah orang yang memiliki kecakapan untuk memecahkan masalah, setiap kali ia di hadapkan dengan problema dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang ia hadapi. Kebijaksanaan praktis seperti ini sangat dihargai oleh orang arab zaman jahiliyah.
Bagaimanapun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Apakah hali ini berpusat dikepala?. Dalam al-Qur’an dijelaskan yaitu pada surat al-Hajj ayat 46 yang mengandung maksud bahwa pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada,
              •          
Artinya: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.

Prof. Izutsu nampaknya mempunyai alasan ketika mengatakan bahwa kata al-‘aql asuk kedalam filsafat Islam dan mengalami metamorfosis dalam arti. Dengan masuknya pengaruh filsafat Yunani kedalam pemikiran Islam, kata al-‘aql mengandung arti yang sama dengan kata Yunani nous. Dalam filsafat Yunani nous mengandung arti daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Dengan demikian pemahaman dan pemikiran tidak lagi melalui al-qalb di dada tetapi melalui al’aql di kepala.
Berbicara masalah daya fakir, Al-Kindi (796-873 M), filosof Islam pertama, menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat tiga daya: daya nafsu al-quwatu asy-syahawaniyah yang berada di perut, daya berani al-quwatu al-ghadabiyah yang bertempat di dada dan daya fakir al-quwatu an-nataqhah yang berpusat di kepala. Ibnu Maskawaih (941-1030 M), menambahkan dan membaginya yakni nafsu terendah an-nafs al-bahimitah dan nafsu tertinggi an-nafs an-nathaqhah. Sedangnkan nafsu berani berada pada posisi medium. Pemikiran kedua filsof ini bernuansa aliran Plato.
Kalau yang diuraikan di atas adalah akal dalam pendapat kaum filosof Islam, maka kaum teolog Islam mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Abu al-Huzail akal adalah “daya untuk memperoleh engetahuan dan juga daya yang membuat seseorang dapat membedakan antara dirinya dan benda lain benda yang satu dan yang lainnya.
Di samping memperoleh pengetahuan, akal juga mempunyai daya untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Akal dalam pengertian Islam, bukanlah otak, tetapiadalah daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Daya yang sebagai mana digambarkan oleh al-Qur’an memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia yaitu Tuhan.
Pada bahasan berikutnya yaitu wahyu, yang mengandung konsep adanya komunikasi antara Tuhan yang bersifat imateri dan manusia yang bersifat materi. Filsafat, tasawuf, mistisme dalam Islam mengakui adanya komunikasi itu. Komunikasi yang terjadi antara Tuhan dan hambanya menurut faham filsafat bias saja terjadi karena akal perolehan telah begitu terlatih dan begitu kuat daya tangkapnya sehingga mampu menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni.
Menurut ajaran tasawuf, komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan dengan daya rasa manusia yang berpusat dihati sanubari. Ini sama dengan artinya ahli sufi dalam mempertajam daya rasa atau kalbunyadengan menjauhi hidup kematerian dan memusatkan perhatian dan usaha pada pensucian jiwa. Kalau filsof Islam mempertajam ddayat fakir lewat hal-hal yang sifatnya abstrak, maka ahli sufi melewatinya dengan cara mendekatkan diri kepaada Tuhan.
Adanya komunikasi antara orang tertentu dengan Tuhan bukanlah suatu hal yang ganjil. Oleh karena adanya dalam Islam wahyu dari Tuhan kepada Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah suatu hal yang tidak dapat diterima akal.
Dikalangan kaum Orientalis yang menulis tentang Islam, soal wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. mengalami dua cara. Menurut Tor Andrae (1960: 48). Pendengaran auditory dan penglihatan visual. Dalam bentuk pertama wahyu merupakan suara dan yang kedua wahyu merupakan pandangan, gambar.
Dalam hubungan ini, Dr. M. Abdullah Diraz menyimpulkan bahwa penerimaan wahyu oleh Nabi Muhammad s.a.w. berbeda dengan penerimaan ilham oleh penyair. Jika wahyu diterima Nabi tidak memiliki ide atau gagasan sedangkan penyair dan filosof terlebih dahulu ad aide dalam diriny dan baru kemudian di tuangkan dalam kata-kata.
Maka yang diwahyukan dalam Islam adalah isi dan teksnya sebagai mana terkandung dalam al-Qur’an, kebenaran datangnya ini dari Tuhan dan bersifat absolut.

C. Akal Dan Wahyu Dalam Pemikiran Keagamaan Dalam Islam
Sebagai diketahui Islam berkembang dalam sejarah bukan hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai kebudayaan. Islam lahir pada mulanya hanya sebagai agama di Mekkah, tetapi kemudian tumbuh di Madinah menjadi Negara, selanjutnya membesar di Damsyik menjadi kekuatan politik internasional yang luas daerahnya dan akhirnya berkembang di Baghdad menjadi kebudayaan bahkan peradaban yang tidak kecil pengaruhnya. Dalam perkembangan Islam dalam kedua aspeknya itu (akal dan wahyu), akal memainkan peranan penting bukan dalam bidang kebudayaan saja, tetapi juga dalam bidang agama sendiri. Dalam membahas masalah-masalah keagamaan, ulama-ulama Islam tidak semata-mata berpegang teguh pada wahyu, tetapi banyak pula bergantung pada pendapat akal. Peranan akal yang besar dalam masalah-masalah keagamaan dijumpai bukan pula hanya dalam bidang filsafat, tetapi juga dalam bidang tauhid, bahkan juga dalam fikih dan tafsir sendiri.
Kedudukan akal dalam pemikiran keagamaan Islam zaman klasik, sebagai terdapat di bidang ilmu fikih, di bidang ilmu tauhid dan di bidang filsafat. Sesudah zaman klasik yang berakhir secara resmi pada pertengahan abad ketiga belas, pemikiran dalam Islam tidak berkembang. Tetapi pada zaman modern sekarang yang dimulai pada permulaan abad kesembilan belas, pemikiran atas dorongan rasionalisme yang datang dari dunia barat mulai timbul kembali. Pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam mulai lagi menonjolkan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur’an, dalam Hadits dan dalam sejarah pemikiran Islam.

D. Penutup
Dari uraian yang diberikan di atas dapatlah disimpulkan bahwa dalam ajaran Islam akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak dipakai, bukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan saja, tetapi juga dalam perkembangan ajaran-ajaran keagamaan Islam sendiri. Pemakaian akal dalam Islam diperintahkan oleh al-Qur’an sendiri. Bukanlah tidak ada dasarnya kalau ada penulis-penulis baik dari kalangan Islam sendiri, maupun dari kalangan bukan Islam, yang berpendapat bahwa Islam adalah agama rasional.
Dalam pemahaman itu perlu ditegaskan bahwa pemakaian kata-kata rasional harus dilepaskan dari arti kata sebenarnya, yaitu percaya kepada rasio semata-mata dan tidak mengindahkan wahyu, atau membuat akal lebih tinggi dari wahyu, sehingga wahyu dapat dibatalkan oleh akal. Dalam pemikiran Islam sebagai telah dilihat dalam uraian yang diberikan di atas, baik dibidang filsafat dan ilmu kalam, apalagi di bidang ilmu fikih, akal tidak pernah membatalkan wahyu. Akal tetap tunduk pada teks wahyu, teks wahyu tetap dianggap mutlak benar. Akal dipakai hanya untuk memahami teks wahyu dan sekali-kali tidak untuk menentang wahyu. Akal hanya memberi interpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan kecenderungan dan kesanggupan pemberi interpretasi.
Yang dipertentangkan dalam sejarah pemikiran Islam sebenarnya bukan akal dengan wahyu, baik oleh kaum Mu’tazilah maupun oleh kaum filosof Islam. Yang dipertentangkan adalah penafsiran tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks wahyu itu juga. Jadi yang bertentangan sebenarnya dalam Islam adalah pendapat akal ulama tertentu dengan pendapat akal ulama lain tentang penafsiran wahyu, dengan kata lain ijtihad ulama dengan ulama lain.
Oleh karena itu perlu ditegaskan bahwa pemakaian akal yang diperintahkan al-Qur’an seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah mendorong manusia untuk meneliti alam sekitarnya dan perkembangan ilmu pengetahuan serta selanjutnya pemakaian akal yang ada dalam dirinya inilah yang membuat manusia menjadi khalifah di bumi.