MU’JIZAT AL-QUR’AN

A. Pengertian Mu’jizat
Kata mu’jizat diambil dari bahasa Arab yaitu a’jaza-yu’jizu-I’jazan, yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu.
I’jaz (kemu’jizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan kemampuan.
Apabila kemukjizatan telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mu’jiz (yang melemahnkan). Yang dimaksud dengan I’jaz dalam pembahasan ini ialah menampakan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mu’jizatnya yang abadi, yaitu al-Qur’an dan kelemahan generasi-generasi setelah mereka. Dan mu’jizat adalah sesuatu hal yang luar biasa dengan disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.
Al-Qur’an digunakan oleh Nabi Muhammad saw. untuk menghadapi orang-orang Arab. Rasulullah saw. telah meminta orang Arab untuk menandingi al-Qur’an dalam tiga tahapan:
1. Menantang mereka dengan seluruh al-Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia dan jin, dengan tantangan yang mengalahkan kemampuan mereka secara terpadu.
2. Menantang mereka dengan sepuluh surat dari al-Qur’an.
3. Menantang mereka dengan satu surat saja dari al-Qur’an.
Orang yang mempunyai sedikit saja pengetahuan sejarah dari orang Arab dan sastra bahasanya, tentu akan mengetahui faktor-faktor bagi diutusnya Rasulullah yang meninggikan bahasa Arab, menghaluskan tutur katanya dan mengumpulkan ragam dialeknya yang baik dari pasar-pasar sastra dan perlombaan puisi dan prosa.
Sebenarnya mereka telah menelaah ayat-ayat Kitab, membolak baliknya dan mengujinya dengan metode yang mereka gunakan untuk merangkai puisi dan prosa, namun mereka tidak mendapatkan jalan untuk menirunya atau celah-celah untuk menghadapinya. Sebaliknya, yang meluncur dari mulut mereka adalah kebenaran yang membuat mereka bisu secara spontan ketika ayat-ayat al-Qur’an menggoncangkan hati mereka.
Kelemahan orang Arab untuk menandingi al-Qur’an pada kenyataannya mereka mempunyai faktor-faktor dan potensi untuk itu, ini merupakan bukti tersendiri bagi kelemahan bangsa Arab di masa bahasa ini berada dalam puncak keremajaan dan kejayaannya.
Kemukjizatan al-Quran bagi bangsa-bangsa lain tetap berlaku di sepanjang zaman dan akan ada dalam posisi yang tegap. Misteri-misteri alam yang disingkap oleh ilmu pengetahuan modern adalah sebagian dari fenomena hakikat-hakikat tinggi yang terkandung dalam misteri alam wujud yang merupakan bukti eksistensi Pencipta dan Perencananya. Dan inilah hal yang dikemukakan secara global atau diisyaratkan oleh al-Qur’an. Dengan demikian, al-Qur’an tetap merupakan mukjizat bagi seluruh umat manusia.
Menurut para ulama, mu’jizat didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang luar biasa yang diperlihatkan Allah swt.melalui para Nabi dan Rasulnya sebagai bukti atas kebenaran dari pengakuan kenabian dan kerasulannya.
B. Macamm-macam Mu’jizat
Mujizat dapat dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu mujizat yang bersifat indrawi (yang tidak kekal) dan mu’jizat immaterial, logis dapat dibuktikan sepanjang masa. Adapun mu’jizat nabi-nabi terdahulu merupakan mu’jizat yang bersifat indrawi, artinya kemu’jizatannya bisa langsung disaksikan oleh indra masyarakat setempat, sedangkan mu’jizat yang diberikan kepada nabi Muhammad saw itu tidak bersifat indrawi maupun material, melainkan yang dapat dipahami akal, karenanya tidak dibatasi oleh tempat atau masa tertentu.
Perbedaan ini disebabkan oleh dua pokok masalah:
1. Para nabi sebelum nabi Muhammad saw. ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu, maka mu’jizat hanya berlaku pada masyarakat dan masa itu saja.
2. Manusia sudah mengalami perkembangan akal. Para nabi sebelum Nabi Muhammad saw membuktikan kebenaran sesuai tingkat pemikiran mereka. Sedangkan pada masa nabi Muhammad saw. ketika beliau ditanya oleh mereka yang tidak percaya, bukti-bukti yang sifatnya demikian, beliau diperintahkanoleh Allah untuk menjawab:
Artinya:

…Katakanlah Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul…

C. Unsur-Unsur I’jaz
1. Hal atau peristiwa yang luar biasa
Disini mengandung pengertian yang berbeda di luar jangakauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukumnya.
2. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Tantangan ini harus bersamaan dengan pengakuannya sebagai nabi.
3. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengakau nabi, hal ini tidak dinamakan sebagai mu’jizat.
4. Tantanagan itu gagal dilayani
Jika yanag ditanatang berhasil melakjukan hal serupa, ini berarti engkau sang penantang tidak terbukti.
D. Segi-segi Kemkjizatan al-Qur’an
1. Dari Segi Kebahasaan
Keseimbangan dan pemakaian kata. Menurut Abdul Rozak Naufal, ada lima macam bentuk keseimbangan kosa kata.
a. Keseimbangan jumlah kata dengan antonimya
Contohnya : AL-hayu (hidup) x al-maut (mati)
b. Jumlah kata dengan sinonimnya
Contoh : Al- naf (manfaat) + al madharah (madarat)
c. Jumlah antara satu dengan kata lain
Contohnya : Al- infaq (infak) dengan al ridha (kerela)
d. Jumlah kata dengan kata penyebabnya
Contohnya : Al- israf (pemborosan) denagan al surah (ketergesah- gesahan)
e. Keseimbangan yang bersifat khusus
Contohnya : Yawm (hari)
2. Segi kalimat (susunannya)
Uslub bahasa al-qu’an jauh lebih tinggi kualitasnya dibandingkan yang tidak akan pernah ada pada ucapan manusia.
3. Hukum Ilahi yang sempurna
Al-Qur’an menjelaskan pokok-pokok aqidah, norma-norma keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi, polotik, sosial dan kemasyarakatan serta hukum-hukum ibadah.
a. Topik utama dalam al-Qur’an adalah aqidah, yang mana selalu didentifikasikan dengan keyakinan. Adapun indikasi yang membuktikan bahwa aqidah sebagai topik yang amat menonjol dalam al-Qur’an, yaitu ;
Pertama, ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad yaitu surat al-Alaq ayat 1-5 ayat pertama mengisaratkan tentang urgensi ilmu pengetahuan dan teknologi melalui simbol membaca.
Kedua, al-Qur’an telah menjelaskan bahwa surat atau ayat yang diturunkan lebih awal. Itu kelompok surat atau ayat makiyah, yang berisikan masalah keimanam, aqidah dan akhlak.
Ketiga, ayat-ayat al-Qur’an yang bertemakan bidang apapun, selalu dikaiatkan dengan aspek akidah.
Keempat, al-Qur’an menyatakan bahwa satu-satunya dosa yang pelakunya tidak pernah diampuni Allah swt. adalah penyimpangan akidah.
Kelima, last but not leas. Al-Qur’an dibuka dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.
b. Yang kedua adalah ibadah. Dalam terminologi syariah, ibadah terbagi dua yaitu, ibadah mahdhah (pokok) dan ibadah ghair mahdhah (sosial).
Ibadah mahdhah adalah sejumlah ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada umatnya dengan menetapkan kadar, waktu dan cara melakukannya. Sedangkan ibadah ghair mahdhah adalah sejumlah perbuatan keduniaan yang baik dan benar disertai niat untuk mencari ridha-Nya.
c. Aspek Eskatologi
Al-qur’an mengungkapkan, bahwa manusia pada awalnya tidak ada di dunia ini kemudian ada dan akan meningalkannya, Allah swt. mengawali pembicaraannya tentang konsep hidup manusia dalam konteks siklus kehidupan yang diungkapkan di dalam surat al-Baqarah:28
             
Artinya: Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

At-Thaba’I menjelaskan bahwa ayat ini mengungkapkan tentang perjalanan hidup manusia yang semula tidak ada, kemudian diciptakan oleh Allah dari materi di alam semesta melalui proses alamiah yang tidak pernah berubah.
d. Tentang Kemasyarakatan
Ibnu Khaldun, Al-Mawardi dan Al-Ghazali sependapat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memiliki ketergantungan interdepedensi antara yang satu dengan yang lainnya dalam hal kehidupannya.
Dilihat dari sifatnya,hubungan sosial tersebut tergagi menjadi dua bagian yhaitu:
1. Hubungan fungsional
2. Hubungan persaudaraan yang diikat oleh kesamaan agama
Hubungan fungsional adalah hubungan yang lebih bertendensikan pada jasa. Contohnya dalam jual beli, sewa menyewa, kerjasama dalam usaha, kerjasama utang piutang atau kerjasama dalam pertanian.
Sedangkan hubungan persaudaraan yang diikat oleh kesamaan agama didasarkan pada kesamaan keyakinan, dan bukan atas dasar kekerabatan, kesukaan atau sentimen-sentimen primurdial lainnya.
Bentuk persaudaraan ini berdasarkan pada firman Allah dalam surat al-Hujurat:10

       •    
Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

E. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Para ulama berbeda pendapat dalam ketidakmampuan manusia untuk menandingi al-Qur’an dari segi bahasa. Pendapat pertama mengatakan bahwa ketidakmampuan manusia itu karena ketinggian dan keindahan susunan bahasanya, tokoh dari ulama ini adalah as-Suyuthi.
Pendapat kedua menyatakan bahwa ketidakmampuan manusia menandingi al-Qur’an itu karena sirfah, yakni Allah memalingkan manusia untuk tidak menentang al-Qur’an. Tokohnya adalah Al-Nadzham.
F. Aspek-aspek Kemukjizatan al-Qur’an
Kelahiran ilmu kalam dalam Islam memiliki implikasi yang lebih tepat untuk dikatakan sebagai kalam di dalam kalam. Percikan pemikiran yang ada di dalamnya menarik pengikutnya kedalam kerancuan pembicaraan yang bertumpang tindih, sebagiannya berada dalam sebagian yang lain. Tragedi tokoh-tokoh ilmu kalam ini mulai tampak ketika membicarakan kemahlukan al-Qur’an. Maka pendapat dan pandangan mereka tentang kemukjizatan al-Qur’an berbeda-beda dan beragam.
Pada hakekatnya, qur’an itu mukjizat dengan segala makna yang dibawakan dan dikandung oleh lafad-lafadnya. Ia mukjizat dalam lafad-lafad dan uslubnya. Satu huruf yang berada di tempatnya merupakan suatu mukjizat yang diperlukan oleh yang lainnya dalam ikataan kata, satu kata yang berada di tempatnya juga merupakan mukjizat dalam ikatan kalimat, dan satu kalimat yang ada di tempatnyapun merupakan mukjizat dalam jalinan surah.
Al-qur’an adalah mukjizat dalam hal bayan (penjelasan, retorika) dan nazam (jalinan)-nya. Di dalamnya seorang pembaca akan menemukan gambaran hidup bagi kehidupan alam dan manusia. Ia adalah mukjizat dalam makna-maknanya yang telah menyingkapkan tabir hakikat kemanusiaan dan misi di dalam kosmos ini.
Al-qur’an juga mukjizat dengan segala ilmu dan pengetahuan yang sebagian besar kahikatnya yang gaib telah diakui dan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. Qur’an seluruhnya, itulah yang membuat orang Arab yang semula hanya penggembala domba dan kambing, menjadi pemimpin bangsa-bangsa dan panutan umat. Dan hal ini sudah menjadi bukti mukjizat.
Maka dapat disimpulkan dari keterangan tersebut bahwa Qur’an itu mukjizat, karena ia datang dengan lafad-lafad yang paling fasih, dalam susunan yang paling indah dan mengandung makna-makna yang pailing valid, sahih, seperti peng-Esa-an Allah, penyucian sifat-sifatnya, ajakan taat kepada-Nya, penjelasan cara beribadah kepada-Nya, dengan menerangkan hal yang diharamkan, dilarang dan dibolehkan, juga seperti nasehat dan bimbingan, amar makruf, nahi munkar.
Jelaslah bahwa mendatangkan hal-hal seprti itu lengkap dengan berbagai ragamnya hingga tersusun rapi dan teratur, ini merupakan sesuatu yang tidak disanggupi oleh kekuatan manusia di luar jangkauan kemampuannya. Dengan demikian, maka sia-sialah makhluk dihadapannya dan menjadi lemah, tidak mampu untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya.
G. Kadar Kemukjizatan Qur’an
1. Golongan mu’tazilah berpendapat bahwa kamukjizatan itu berkaitan dengan keseluruhan Qur’an, bukan dengansebagainya, atau dengan tiap surahnya secara lengkap.
2. Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa sebagian kecil atau sebagian besar dari Qur’an tanpa harus satu suran penuh, juga merupakan mukjizat berdasarkan firman Allah swt
      
Artinya: Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.

3. Ulama yang lain berpendapat, kemukjizatan itu cukup dengan hanya satu surah lengkap sekalikpun pendek, atau dengan ukuran satu surah, baik satu ayat atau beberapa ayat.
Memang pada dasarnya Qur’an telah mengajukan tantangan agar didatangkan sesuatu yang persis sama dengan Qur’an secara keseluruhhan isinya (al-Isra, 17:88), dengan sepuluh surah ( Yunus, 10:38), dan dengan suatu pembicaraan seperti Qur’an (at-Thur, 52:34).
Adapun mengenai segi atau kadar manakah yang menjadi mukjizat itu, maka jika seorang penyelidik yang objektif dan mencari kebenaran memperhatikan Qur’an dari aspek manapu yang ia sukai, baik dari segi uslubnya, segi ilmu pengetahuannya, segi pengaruh yang ditimbulkannya di dunia dan wajah sejarah yang diubahnya, atau semua segi tersebut, tentu kemukjizatan itu ia dapatkan dengan jelas dan terang.

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ………………………………………………………………. i
IKHTILAF …………………………………………….. 1
A. Pengertian IKHTILAF…………………………………………………. 1
B. Daerah ……………………………………………..
C. Unsur-unsur I’jaz …………………………………………………….
D. Segi-segi Kemu’jizatan al-Qur’an ……………………………………
E. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama …………………………..
F. Aspek-aspek Kemu’jizatan al-Qur’an ………………………………
G. Kadar Kemu’jizatan al-Qur’an …………………………………….
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….